Barisan Emak-Emak Simpatik

Jika mendengar kata emak, gambaran apa yang ada di pikiran kita? Sesosok wanita dengan segala kerepotannya mengurus keluarga ataukah wanita lembut penuh rasa keibuan?
Saya sering berkomunikasi dengan para emak di beberapa grup sosial media. Terkadang membahas juga beberapa topik yang sedang hangat di sekolah tempat anak-anak kami belajar. Tak luput sedikit kabar miring juga sering terlintas. Namanya juga emak-emak, kalau sudah berkumpul pasti tak jauh dari topik makanan dan bercandaan. Tetapi ternyata di balik segala kekurangannya, emak-emak menyimpan berjuta kelebihan yang sungguh sangat berarti bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya. Hal yang paling menonjol adalah rasa simpatinya pada sesama. Mungkin kalau kita berada di grup yang sama dengan mereka, akan terasa aksi simpatik dari para emak ini. Bagaimana tidak, satu orang saja mengumumkan anaknya sakit, maka selanjutnya pesan yang datang dari para teman sesama emak ini adalah untaian doa yang panjang dan beruntun.
“Syafakillah ya.. semoga cepat sembuh”, minimal pesan yang datang seperti itu. Dan bisa ditebak berikutnya pesan lain dari teman-temannya akan menyusul. Bukan latah pastinya, karena tiap emak punya sensitivitas untuk mendoakan saudaranya dengan tulus.
Perasaan simpati juga tak jarang muncul manakala merasa bersalah setelah memarahi anaknya. Maka sangat jarang kita jumpai emak yang berkepanjangan rasa marahnya terhadap anak-anaknya. Apalagi kalau sudah memandang wajah polos anaknya ketika tidur, wah pasti akan meluluh hatinya dengan seketika.
Di lain waktu emak yang kadang kesal melihat anak-anak remaja berkendara sepeda motor secara ugal-ugalan akan merasa iba juga manakala melihat para pengendara ini kemudian mengalami kecelakaan di jalan.
Para emak memang lembut hatinya, terlebih bila mendengar ada orang menangis. Suatu ketika saya mendengar kisah seorang ibu yang akan ditinggal pergi anaknya belajar di luar negeri. Ibu ini merasa sedih dan menangis ketika menceritakan bagaimana perasaannya akan berjauhan dengan anak lelaki sulungnya. Ternyata pada saat mendengar tangisan sang ibu, sayapun turut berlinang air mata. Karena membayangkan kesedihan yang mendera ketika hidup terpisah antar benua dengan anak lelaki remajanya.
Namun di balik kelembutannya, para emak juga ternyata wanita yang perkasa. Saya sering menyaksikan emak-emak yang mengendarai sepeda motornya dengan cepat. Mereka bisa membelah kemacetan, menyusup diantara deretan mobil-mobil yang mengular atau bahkan menerobos marka jalan meski di celah yang sempit sekalipun.
Begitulah gambaran emak-emak di Indonesia yang bisa saya simpulkan. Kelembutannya luar biasa, ketangguhannya juga tak main-main. Semoga dari perjuangannya akan lahir generasi Indonesia yang berhati lembut penuh rasa simpati sekaligus berkarakter tangguh.

(Visited 34 times, 1 visits today)

Ratih Nur'aini Lathifah

Seorang ibu rumah tangga biasa yang punya cara menumpahkan ekspresi melalui tulisan. Buku pertamanya dicetak secara indie pada tahun 2010 dengan judul "Kasih Ibu Menembus Batas". Dua tahun kemudian memenangkan lomba Mother award yang diselenggarakan oleh Adfamilia atas naskah yang ditulis dengan judul sama. Bersama temannya menghasilkan 2 buku masing-masing buku parenting dengan judul "Ya Allah Jadikan Aku Sekolah Terbaik untuk Anakku" yang diterbitkan oleh Qutummedia dan buku " Serpihan Kenangan" yang diterbitkan oleh Quanta Elexmedia Computindo. Punya keinginan mencetak penulis-penulis cilik dengan mengisi Pelatihan Penulis anak-anak bersama salah seorang temannya di Sekolah Alam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published.