Bahasa Langitan

Learning to know, learning to do, learning to be, learning to live together.

Masih dalam proses mengedit buku dari Agam. Jadi terpancing menulis tentang pendekatan proses pembelajaran yang digagas UNESCO. Belajar menjadi diri sendiri. Educational of learning, belajar tentang pembelajaran. Learning to know (belajar untuk memperoleh pengetahuan). Learning to do (belajar dalam berbuat). Learning to be (belajar menjadi diri sendiri). Learning to live together (belajar hidup bersama).

Saya menangkap maknanya dalam sekali. Saya mendeskripsikannya sebagai bahasa langitan. Bahasanya para filsuf dan konseptor. Tantangannya, membumikan bahasa langitan, menjejakkan pada pijakan yang tepat, sehingga dapat dipahami oleh guru di lapangan. Guru sebagai fasilitator, choach, master, juga sebagai friend.

Saya mencoba menterjemahkan empat pilar UNESCO secara sederhana sebagai pendidikan yang memanusiakan manusia. Manusia yang dianugerahi Sang Pencipta dengan akal dan hati perlu menimba ilmu untuk kehidupannya di dunia fana dengan arif dan bijaksana. Baik pengetahuan, keterampilan, maupun sikap diri. Sebagai makhluk sosial yang bersama-sama makhluk lainnya membangun peradaban yang luhur.

Alam seluas langit dan bumi sengaja dibentangkan untuk memenuhi kehausan pengetahuan yang diperlukan manusia. Tinggal manusianya belajar sungguh-sungguh agar mampu memperoleh pengetahuan yang dibutuhkan, memanfaatkan pengetahuan tersebut baik untuk dirinya maupun masyarakat tempat hidup bersama.

Jika mengkaji kembali kegiatan di sekolah-sekolah, sebagai lembaga pendidikan yang membekali siswa dengan pengetahuan yang dibutuhkannya kelak, saya jadi berpikir lebih keras. Apakah pengetahuan, keterampilan, dan sikap diri tersebut akan benar-benar berguna pada kehidupannya nanti? Jangan-jangan hanya sekadar angka-angka di dokumen rapor dan ijazah. Menjadi pajangan tak bernilai karena tidak laku di pasaran.

Otak saya berpikir keras. Berdebat di alam bawah sadar. Akhirnya saya menyimpulkan bahwa pengetahuan, keterampilan, dan sikap diri memang dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat, tapi tentu yang sesuai bidangnya masing-masing. Kebutuhan seorang diplomat tentu berbeda dengan seorang pilot. Berbeda pula dengan chef, librarian, taggers, traveller, illustrator, gamer, ahli gunung berapi, arkeolog, oceanographer, blogger, carver, wasit, make-up artist, choreographer, conductor, debt collector, ecologist, lifeguard, financial analyst, metallurgist, forester, hacker, hydrologist, editor, dalang, dan segudang profesi lainnya.

Rasanya kebutuhan pendidikan di tingkat dasar di Indonesia begitu beragam. Tujuh mata pelajar yang harus dikunyah anak pendidikan dasar. Banyak pelajaran sisipan yang seharusnya bukan menjadi bidang studi sehingga fokus memberikan dasar pendidikan pada anak menjadi bias. Saya tergelitik dengan pendidikan yang dibangun di negara maju. Katakan Jepang yang fokus pada pendidikan moral dan kepribadian yang tidak diajarkan melalui mata pelajaran khusus, tetapi dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Demikian juga Finlandia sebagai juaranya pendidikan dasar dunia, mengembangkan kepribadian siswa, bukan skill, bukan belajar konten kurikulum yang spesifik. Juga di Jerman yang fokus pada kemampuan dan sosialisasinya di sekolah. Selain itu, di kelas satu dan dua anak baru mulai mengenal angka dan huruf, serta mulai belajar membaca dan berhitung.

Nah, rasanya ada yang timpang dengan pendidikan dasar Indonesia. Kok, malah saya yang terlalu risau memikirkannya. Sementara para educator hebat negeri ini tenang-tenang saja.

Kang Yudha

(Visited 34 times, 34 visits today)

Kang Yudha

Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat: Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah, dan Melbourne. Sejak tahun 2013, mengelola kelas parenting Sekolah Alam Indonesia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009). Menjadi penulis sebelas buku yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi cerita komunitas (Kawan Pustaka-2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi cerita kelas (Audi Grafika-2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media-2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertuang (Wahyu Media-2006), Smart Games for Kids - (Wahyu Media-2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media-2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing-2009), Character Building (ProU-2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing-2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru-2016), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Kata Depan-2018). Saat ini juga juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok. Menjadi Editor Media Guru. Aktivitas lainnya, terlibat lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik)

Leave a Reply

Your email address will not be published.