Antara Cinta, Bunga Dan Cokelat

Sepasang mata jernihnya mampu meluluhkan hati saya. Ditambah lagi dengan sebaris gigi yang ditampakkan saat mengucapkan kalimat jujur dari bibir lebarnya. Senyum paling manis sudah lebih dulu merekah sebelum kalimat itu terucap. “Umi, I love you.”
Oh, betapa bahagianya saya demi mendengar kalimat itu terungkap dari lisan anak bungsu saya. Anak yang kini duduk di bangku kelas 5 SD. Cintanya tentu tulus, Meski tanpa disertai bunga dan cokelat yang umumnya diberikan oleh para lelaki kepada gadisnya ketika mengucapkan kata yang sama. Tentu saja saya pun tidak berharap ada tambahan setangkai mawar atau krisan seperti yang ada di film-film remaja. Tidak pula sebatang cokelat berlapis karamel seperti yang saya suka. Saya ibunya, dan lelaki yang mengucap kata cinta ini anak bungsu saya. Cinta yang kami rasakan adalah anugerah Allah sebagai ikatan hati antara anak dan ibu. Berbeda dengan cinta dari lelaki kepada gadis yang ditaksirnya.
Dalam rentang waktu pengabdian seorang ibu di rumah atau seorang guru di sekolah pasti mengalami pasang surut semangat. Adakalanya rasa letih menyergap dan lelah mendera raga kita. Tanpa ada pengecualian, semua pernah merasakan hal yang demikian. Sementara perjuangan kita tentu belum usai. Laksana sebuah kerja panjang, kita hanya perlu memberi jeda sejenak dengan mengambil nafas untuk persiapan langkah selanjutnya.
Apa yang membuat semua ibu dan seorang guru bisa bertahan selama proses pengabdiannya?
Sesungguhnya energi terbesar yang menguatkan adalah cinta. Tak bisa dipungkiri, wujud yang tak terlihat bukan berarti cinta tak dapat dirasa. Keberadaannya memberikan makna pada setiap kerja yang kita lakukan. Cinta pula yang mampu mengubah setiap lelah menjadi berkah. Bukan sembarang cinta pastinya, sebab hanya cinta yang didasari atas niat mencari ridho Allah yang akan menggelorakan semangat kita dalam berjuang.
Bersyukurlah bila ternyata cinta yang demikian telah Allah anugerahkan kepada kita, tugas kita sekarang adalah merawatnya dengan sungguh-sungguh.
“Sesungguhnya Allah SWT pada hari kiamat berfirman : Dimanakah orang yang cinta mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini Aku akan menaungi dengan menunggu-Ku di hari yang tiada naungan melainkan naungan-Ku.” (HR. Muslim)

(Visited 25 times, 25 visits today)
Ratih Nur'aini Lathifah

Ratih Nur'aini Lathifah

Seorang ibu rumah tangga biasa yang punya cara menumpahkan ekspresi melalui tulisan. Buku pertamanya dicetak secara indie pada tahun 2010 dengan judul "Kasih Ibu Menembus Batas". Dua tahun kemudian memenangkan lomba Mother award yang diselenggarakan oleh Adfamilia atas naskah yang ditulis dengan judul sama. Bersama temannya menghasilkan 2 buku masing-masing buku parenting dengan judul "Ya Allah Jadikan Aku Sekolah Terbaik untuk Anakku" yang diterbitkan oleh Qutummedia dan buku " Serpihan Kenangan" yang diterbitkan oleh Quanta Elexmedia Computindo. Punya keinginan mencetak penulis-penulis cilik dengan mengisi Pelatihan Penulis anak-anak bersama salah seorang temannya di Sekolah Alam Indonesia

More Posts

Follow Me:
TwitterFacebook

Ratih Nur'aini Lathifah

Ratih Nur'aini Lathifah

Seorang ibu rumah tangga biasa yang punya cara menumpahkan ekspresi melalui tulisan. Buku pertamanya dicetak secara indie pada tahun 2010 dengan judul "Kasih Ibu Menembus Batas". Dua tahun kemudian memenangkan lomba Mother award yang diselenggarakan oleh Adfamilia atas naskah yang ditulis dengan judul sama. Bersama temannya menghasilkan 2 buku masing-masing buku parenting dengan judul "Ya Allah Jadikan Aku Sekolah Terbaik untuk Anakku" yang diterbitkan oleh Qutummedia dan buku " Serpihan Kenangan" yang diterbitkan oleh Quanta Elexmedia Computindo. Punya keinginan mencetak penulis-penulis cilik dengan mengisi Pelatihan Penulis anak-anak bersama salah seorang temannya di Sekolah Alam Indonesia

Leave a Reply