Antara Bermain dan Mainan

Ada lagi cerita dari Kampung Hong. Komunitas bermain yang dikelola profesional. Saya anjurkan datang ke sana dan temukan sensasinya. Bukan promosi. Saya bisa memberi jaminan bahwa yang hadir akan takjub mendengarkan penjelasan Kang Zaini dengan Komunitas Hong-nya. Pasti akan mendapat suasana berbeda.

Saya baru ngeh dengan perbandingan dua kata “bermain” dengan “mainan”. Menurut Kang Zaini makna bermain jauh lebih dalam. Ada aktivitas yang kental di sana. Maka bermain harus disertai dengan refleksi. Sehingga memberi makna dengan pengaruh positif buat anak-anak atau siapapun yang memainkan sebuah permainan.

Alhasil kegiatan bermain menjadi sangat menarik karena bukan sekadar membunuh waktu. Namun memanfaatkan waktu. Berbeda mungkin dengan cara pandang kekinian bahwa bermain menjadi bermakna negatif. Sehingga wajar jika orang tua paling anti melihat anaknya bermain-main saja.

Mendengar penjelasan Kang Zaini, misalnya tentang makna hom pim pah alaihim. Kalimat yang sering diucapkan manakala akan memulai suatu permainan. Mencari pemenang yang akan bermain lebih dulu atau mencari penjaga yang akan bergantian di sesi kedua.

Saya juga baru tahu kalau hom pim pah alaihim bermakna berkumpul kembali kepada Tuhan. Hom berarti Tuhan dan alaihim berarti kembali.

Demikianlah makna sebuah permainan seperti ada siang ada malam. Ada laki-laki ada perempuan. Ada baik ada buruk. Ada kaya ada miskin. Ada menang dan ada kalah. Maka keduanya mempunya fungsi masing-masing. Siang sebagai tempat bekerja mencari nafkah. Malam sebagai tempat istirahat sehingga esoknya bisa kembali bekerja. Ada kaya yang memberi manfaat kepada yang miskin. Berbagi bukan mencuri atau merampok.

Bermain juga mengasah indera. Beberapa permainan merangsang indera penglihatan, indera pendengaran, indera penciuman, indera peraba, hingga indera pengecap. Bermain dan belajar menyiapkan masa depan yang lebih kompleks. Bermain berarti mencari simulasi pengalaman hidup. Asal direfleksikan bukan sekadar bermain.

Berbeda dengan mainan. Mainan adalah alat. Pemainnya bisa menggunakan untuk bermain. Nah sering bermain dimaknai sebagai mainan yang pada akhirnya tidak memberi makna. Apalagi mendalam.

Menjejaki bermain pada arti sesungguhnya maka bisa melihat prosesnya di zaman saya kecil dulu. Mungkin juga sebagian pembaca. Manakala anak-anak bermain petak umpat. Mencari teman di bawah sinar bulan. Mengejar hingga menyebut nama semua anak satu per satu.

Bermain seperti itu yang dirindukan. Asyik dan menyenangkan. Belajar bersosialisasi belajar menempa diri. Mandiri – Tangguh – Cekatan – Melibatkan seluruh indera.

 

Kang Yudha

(Visited 4 times, 4 visits today)
Kang Yudha

Kang Yudha

Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat (Medan, Palembang, Bengkulu, Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi, Lombok, Wamena-Papua, Keningau-Beaufort-Sipitang-Kundasan-Sandakan Sabah, Melbourne). Sejak tahun 2013, mengelola kelas parenting Sekolah Alam Indonesia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009). Menjadi penulis delapan buku yaitu Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - kumpulan cerita kelas (Audi Grafika-2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media-2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertuang (Wahyu Media-2006), Smart Games for Kids - (Wahyu Media-2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media-2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing-2009), Character Building (ProU-2013), dan Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing-2015). Saat ini juga juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok. Aktivitas lainnya, terlibat lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik)

More Posts

Follow Me:
TwitterFacebook

Kang Yudha

Kang Yudha

Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat (Medan, Palembang, Bengkulu, Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi, Lombok, Wamena-Papua, Keningau-Beaufort-Sipitang-Kundasan-Sandakan Sabah, Melbourne). Sejak tahun 2013, mengelola kelas parenting Sekolah Alam Indonesia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009). Menjadi penulis delapan buku yaitu Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - kumpulan cerita kelas (Audi Grafika-2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media-2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertuang (Wahyu Media-2006), Smart Games for Kids - (Wahyu Media-2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media-2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing-2009), Character Building (ProU-2013), dan Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing-2015). Saat ini juga juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok. Aktivitas lainnya, terlibat lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik)

Leave a Reply