African Devil’s

Mengenal sansevieria, sudah tiga tahun belakangan ini menjadikannya idola jenis tanaman buat orang sibuk seperti saya. Sibuk? Lumayanlah, buat yang tidak ada batasan jamnya.

Beberapa perubahan waktu yang sekarang sudah tidak sempat lagi dilakukan. Pagi sebelum berangkat mengajar, masih bisa menyiram tanaman kebun kecil di halaman depan. Banyak jenisnya. Ada aneka bromelia, pilodendron, begonia, beberapa palmae, dan koleksi buah eksotik. Sorenya masih bisa bertegur sapa dengan mereka. Melihat daun mudanya dan memeriksa jika ada serangan ulat dari telur kupu-kupu liar yang menetas di kerumunan dedaunan.

Sebelum tiga tahun belakangan itu, saya tak sempat lagi menyiangi gulma yang tumbuh liar atau menyiram air menghilangkan terik di siang hari. Alhasil koleksi tanaman di kebun saya mati satu per satu. Ada yang daunnya habis dimakan ulat. Ada yang keriting kena virus. Ada juga yang mengering mati karena kehausan.

Masaallah, saya telah berbuat zolim.

Sempat acuh tak ingin memelihara tanaman lagi karena takut tak mampu merawatnya. Saya benar-benar merasa bersalah. Sampai akhirnya tiga tahun lalu saya dikenalkan oleh sansevieria. Tanaman berdaun kaku yang tidak terlalu sensitif perawatan.

Sansevieria adalah nama ilmiah rumpun tumbuhan ini. Namanya diabadikan untuk menghormati Raimondo di Sangro (1710-1771) putra San Severo di Italia. Orang-orang Afrika mengenalnya sebagai African Devil’s. Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mempublikasikan hasil penelitian tentang manfaatnya pada 1999. Sansevieria disebutkan efektif menyerap polutan ruangan seperti formaldehid, benzena, dan trikhloroetana, sehingga sangat cocok dimanfaatkan sebagai penghias ruangan. (http://www.satuharapan.com/read-detail/read/sansevieria-naik-kelas-berkat-penelitian-nasa)

Awalnya, saya tidak terlalu peduli dengan tanaman jenis ini. Namun mengingat keistimewaannya yang mampu bertahan hidup pada rentang suhu dan cahaya sangat luas, membuat saya berpikir sekali lagi. Apalagi sansevieria sangat toleran terhadap kekeringan. Tanaman ini tidak menghasilkan sampah daun. Perawatannya mudah. Cukup disiram seminggu sekali atau dua minggu sekali (kalau saya tidak sempat). Ini jangan ditiru. Kasihan tanaman sebenarnya.

Saya rasa cocok dengan waktu saya. Masih bisa berbagi perhatian dengan kebun kecil di depan rumah sekaligus menyerap polutan dari bakaran sampah dan asap knalpot dari kendaraan yang lewat.

Saya punya koleksi beberapa jenisnya. Mau tukaran? Yuk.

 

Kang Yudha

Sumber gambar: https://meldyiam.blogspot.com/2015/08/tumbuhan-penyerap-polusi-ada-disekitar.html

 

 

 

(Visited 4 times, 4 visits today)
Kang Yudha

Kang Yudha

Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat (Medan, Palembang, Bengkulu, Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi, Lombok, Wamena-Papua, Keningau-Beaufort-Sipitang-Kundasan-Sandakan Sabah, Melbourne). Sejak tahun 2013, mengelola kelas parenting Sekolah Alam Indonesia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009). Menjadi penulis delapan buku yaitu Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - kumpulan cerita kelas (Audi Grafika-2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media-2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertuang (Wahyu Media-2006), Smart Games for Kids - (Wahyu Media-2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media-2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing-2009), Character Building (ProU-2013), dan Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing-2015). Saat ini juga juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok. Aktivitas lainnya, terlibat lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik)

More Posts

Follow Me:
TwitterFacebook

Kang Yudha

Kang Yudha

Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat (Medan, Palembang, Bengkulu, Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi, Lombok, Wamena-Papua, Keningau-Beaufort-Sipitang-Kundasan-Sandakan Sabah, Melbourne). Sejak tahun 2013, mengelola kelas parenting Sekolah Alam Indonesia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009). Menjadi penulis delapan buku yaitu Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - kumpulan cerita kelas (Audi Grafika-2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media-2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertuang (Wahyu Media-2006), Smart Games for Kids - (Wahyu Media-2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media-2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing-2009), Character Building (ProU-2013), dan Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing-2015). Saat ini juga juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok. Aktivitas lainnya, terlibat lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik)

2 thoughts on “African Devil’s

  • Kang Yudha
    October 14, 2018 at 16:34
    Permalink

    Gak ada tempatnya pak. Hehehe

    Reply

Leave a Reply