Afizhah “Maqluba Terakhir untuk Baba”

Hakekatnya seorang ibu selalu ingin melihat putra-putrinya dalam lingkaran kebahagiaan dan keceriaan. Pagi itu, seperti biasa perempuam paruh baya itu selalu berusaha mengolah makanan agar dapat dinikmati oleh keluarga besarnya. Seorang gadis berusia dua belas tahun pun dengan sigap  membantunya.

“Umma, pagi ini mau masak apa?” Afizhah melangkahkan kaki menuju sebuah ruangan bernuansa bata merah, tempat di mana wanita separuh baya yang dipanggil Umma itu biasa mengolah makanan untuk keluarganya.

“Hari ini Umma akan masak maqluba, Fizhah.”

“Maqluba? Itu kan makanan kesukaan Baba, asyiiik hari ini Baba pulang ya, Ma?

“InsyaAllah, kita berdoa agar Baba hari ini pulang ya, Nak.”

“Afizhah siap bantu Umma masak kesukaan Baba,”

“Terima kasih putri Umma yang cantik, tapi pagi ini sholihanya Umma sudah murajaah belum?

“Alhamdulliah, tadi selepas Subuh Fizhah sudah murajaah bersama Abang Adam.”

Gadis cantik itu pun dengan cekatan membantunya memasak. Tak lupa celotehan Afizhah terdengar dengan sabar sang Umma menjawab pertanyaan demi pertanyaan.

Afizha adalah gadis periang. Tiada hari yang terlewatkan dengan senyum ceria, bahkan energinya seolah tak pernah habis. Pertanyaan tentang sosok yang dirindunya pulang selalu terucap. Rindu. Ya, Afizhah rindu dengan sosok imam itu. Tidak hanya Afizhah yang merasakan kerinduan tersebut, Umma, Abang Adam, dan Adik Maryam pun merasakan hal yang sama.

Ketika dua orang perempuan ini asyik memasak di dapur tiba-tiba terdengar beberapa langkah suara sepatu dari balik pintu dan terdengar gemuruh dzikir.

“Laa illa haillallah muhammadur rasulullah….”

“Barkan Umma yang membuka pintunya, Nak! Fizhah tunggu di sini!” sepertinya Umma menanngkap firasat yang tidak enak dengan suara rombongan tersebut. Afizhah hanya mengangguk dan mematuhinya.

“Kreeeeek…”

Pintu pun terbuka, terlihat sosok yang tak asing bersimbah darah. Tanpa kata dan tanpa air mata. wanita itu hanya membisu. Hal ini merobek tawa yang tadi terlukis di sebuah dapur bersama gadis remaja yang sangat dicintainya. Dan di bagian ruangan lain seorang gadis semakin gelisah menunggu sang Umma yang tak terdengar suaranya.

“Umma…siapa yang datang?” Teriakan seorang gadis yang semakin mendekat ke ruang depan.

“Umma…ada apa? Itu siapa?” Afizhah semakin gelisah, karena tak ada jawaban sepatahpun dari wanita yang masih terpaku. Ia pun penasaran membuka sebuah kain yang menutupi tubuh lelaki yang yang berdaya itu.

“Baba… Baba… Baba bangun, lihat! Afizhah masak maqluba untuk Baba….” Gadis bermata bulat itu terus meraung dan si perempuan berusia empat puluh tiga tahun itu membiarkan putrinya bersimbah air mata.

“Umma…Umma… istighfar, Umma!” Seorang pemuda hafizh Quran itu masih berusaha menyadarkan sambil memeluk adiknya.

“Umma….” Teriakan Afizhah ketika melihat sang Umma tersungkur ke lantai. Afizhah semakin terluka melihat sosok yang dicintainya tak berdaya. Dan Adamlah, pemuda tegar yang mampu menaungi keluarganya ketika kesedihan menjelma.

“Innalillahi wa inna illaihi raaji’uun, insyaAllah engkau penghuni surge, Baba, Umma ikhlas, tenanglah di sana wahai sang mujahid, cahaya surga telah menunggumu,” sekuat tenaga perempuan berkerudung hitam itu memeluknya.

“Abang, mulai malam ini, tak ada lagi suara Baba yang setia mendampingi Afizhah menghafal Al Quran,”

“Kan masih ada Abang, insyaAllah, Abang Adam akan selalu menemanimu, Dik.”

Udara malam ini kembali sunyi. Retinanya tak mau berhenti meneteskan bening, bahkan ketika  bentang sajadah pun bersaksi betapa luka yang menghunus begitu dalam. Luka yang digores oleh  para zionis pengemis tahta yang bukan haknya. Sang Ayah wafat. Tubuhnnya ditemukan oleh warga di dalam puing-puing.

Maqluba terakhir yang dibuat Afizhah tak kan pernah bisa disantap oleh Baba Ahmed terkasih. Kerinduannya sebulan ini dibalas dengan sosoknya yang tak bernyawa lagi. Sekarang hanya doa, doa, dan doa yang akan menghantar kerinduannya sampai ke surga-Nya.

(Visited 46 times, 5 visits today)
Ariyanti Dwiantika

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

More Posts

Ariyanti Dwiantika

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

Leave a Reply