Ada Hikmah Dalam Setiap Laporan

Melaporkan tentang suatu kejadian adalah sebuah kebutuhan bagi kita sebagai mahluk sosial, apalagi bagi anak anak yang sedang tumbuh dan berkembang . Baik itu sebagai satu keluhan atau sekadar informasi dan bahan percakapan saja. Macam ragam tujuan dari sang pelapor dalam melaporkannya. Bisa hanya untuk menujukan eksistensi diri atau menuntut keadilan ataupun lainnya.

Seperti Putra yang tergesa gesa menghampiri gurunya di kelas, dengan dada yang terlihat naik turun dan nafas nampak tersengal-sengal menahan luapan emosi sambil menahan marah dan tangis ia melaporkan kepada kami guru kelasnya: “ Bu, Aku tidak boleh melewati jembatan oleh Sam dan Bim”.

Sementara Putri berdiri dari duduknya dan berjalan tenang menghampiri gurunya, ia dekatkan wajahnya ke telinga sang guru kemudian dengan suara berbisik menyampaikan bahwa baju kawannya terkena pipis dan ia tidak membawa baju ganti dan ia pun menyampaikan bahwa ia menyarankan temannya untuk selalu membawa baju ganti ke sekolah sesuai peraturan.

Kita sebagai orang orang tua atau pendidik perlu kiranya menyediakan waktu untuk mendengarkan dengan seksama dan penuh perhatian . karena seorang anak melaporkan sesuatu pastilah punya tujuan dan kita perlu tahu apa yang menjadi tujuan dari laporan yang di layangkannya.

Waktu khusus diperlukan untuk laporan yang sifatnya meminta penyelesaian atau meminta keadilan. Dan perlu waktu pula untuk melengkapi data hasil pelapor, perlu adanya penyidikan ataupun penyelidikan.

Bagi seorang pendidik perlu untuk meluruskan hal yang salah dari perilaku yang melapor maupun yang dilaporkan. Perlu memberi apresiasi atas sikap yang tepat dan baik. Mengambil hikmah dan menyampaikan pelajaran penting dari berita / peristiwa yang disampaikan.

Perlu latihan bagi para orang tua untuk bersikap tepat dan berpihak pada kebenaran fakta  dan data bukan opini atau framing yang disampaikan anak terkait dengan sebuah perilaku negatif dalam sebuah kejadian atau pelaporan, Karena  hubungan kekerabatan atau keterikatan emosi sering kali merenggut obyektifitas para orang tua atau guru dalam menilai sebuah pelaporan.

(Visited 26 times, 1 visits today)
Diah Hutami

Diah Hutami

Bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia tahun 1999. Membaca dan menulis puisi merupakan hiburan tersendiri. Mengamati dan menganalisa serta mengaitkan satu dengan yang lainnya adalah keasyikan dalam sebuah perenungannya. Tahun 2001 menikah dan kini telah dikaruniai 4 orang anak. Tahun 2015 diamanahi menjadi Litbang Sekolah Alam Indonesia.

More Posts

Diah Hutami

Diah Hutami

Bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia tahun 1999. Membaca dan menulis puisi merupakan hiburan tersendiri. Mengamati dan menganalisa serta mengaitkan satu dengan yang lainnya adalah keasyikan dalam sebuah perenungannya. Tahun 2001 menikah dan kini telah dikaruniai 4 orang anak. Tahun 2015 diamanahi menjadi Litbang Sekolah Alam Indonesia.

Leave a Reply