Abah Pemilik Cinta Tanpa Syarat

Di matanya tersimpan cinta yang suci. Sanubarinya pun terpancar kesejukan bagaikan telaga kautsar yang tiada henti mengalirkan kesejukan untuk para insan yang selalu menghamba pada Sang Illahi. Itulah hakekatnya cinta. Cinta seorang nelayan yang ku panggil abah itu takkan lekang oleh masa. Aku banyak belajar dari ketulusan cinta dan kesetiaannya terhadap keluarga, yaitu mencintai tanpa syarat.

Ini sekelumit cerita tentang cintanya yang suci karena Allah. Kumantapkan untuk mengikuti jejaknya.

“Rayhan, bangun nak, suara adzan telah memanggil kita,” abah tak pernah lelah membangunkanku setiap Adzan Subuh berkumandang, mengayunkan langkah bersama menuju masjid.

Sepeninggal ambu, abahlah yang mengasuhku dari usia 2 tahun. Kini usiaku telah menginjak 18 tahun. Cintanya yang begitu besar kepada ambu memutuskannya tidak menikah lagi. Dua kali dalam sehari abah mengais rizki di tengah laut bergelut dengan deru ombak. Ketika abah harus pergi ke laut mencari ikan, aku berdua bersama Mbah Putri yang sudah renta, 10 tahun yang lalu ia pun pergi meninggalkan kami untuk selama-lamanya.

“Abah, ini ada surat dari sekolah.” Dengan hati bimbang kuserahkan sebuah kertas putih yang tergores tinta hitam kepadanya. 

Abah pun membaca surat tersebut. Sebetulnya aku tidak ingin memberikan surat tersebut padanya. Jika surat ini diberikan pasti aku tidak boleh menolaknya dan itu berarti aku harus meninggalkan abah sendiri disaat kesehatannya seperti ini. Hampir 1 bulan ini kesehatan abah menurun. Bahkan beberapa kali abah harus dilarikan ke rumah sakit.

“Ambil kesempatan ini, Ray, abah bangga padamu,” abah memelukku sangat erat dan hangat terasakan di pundakku oleh tetesan bening matanya.

“Tidak abah, Ray tidak akan mengambil kesempatan ini, Ray tidak mau meninggalkan abah sendiri, Ray sangat sayang abah,” suaraku semakin memekik menahan tangis.

“Abah tidak setuju, Ray, kalau kamu sayang abah, kamu harus ambil kesempatan ini dan ingat kamu nak, ambu pasti sangat bangga padamu! abah menggoncangkan pundakku sebagai tanda penolakkan keputusan yang ku ambil.

Abah meninggalkanku seorang diri dengan mengusap air yang membasah di pipinya. Namun dalam hitungan detik abah kembali duduk di depanku dengan membawa sebuah buku yang terbungkus rapi.

“Rayhan anakku, bacalah! Abah menyerahkan buku dan berlalu dari hadapanku.

Aku pun membaca setiap goresan tangan ambu yang sangat rapi. Air mataku menjadi saksi kalimat yang terangkai. Bijak, lembut, hidup, dan indah. Aku semakin mengenal sosok ambu. Abah sering bercerita tentang sosok ambu yang tidak hanya cantik parasnya, namun ambu adalah wanita santun dan pintar. Dan kini aku semakin mengenal wanita yang melahirkanku itu. Kalimat yang ditulis memang sederhana, namun setiap bait mencerminkan betapa ia memang pandai menulis.

Terima kasih Allah atas anugerah yang luar biasa ini. Engkau hadiahkan dua lelaki hebat dalam kehidupanku ini. Engkau hadirkan sosok lelaki sholih yang penyayang dan penyabar. Engkaupun hadirkan sosok lelaki mungil yang tampan dalam sisa hidupku. Bagiku ini adalah kebahagiaan yang tak ternilai oleh apapun. (09012001)

Ya Robbiku…bukan berarti aku lelah dengan rasa sakit yang ada dalam tubuh ini, namun jika memang Engkau lebih mencintaiku ambil nyawa ini, berikan hamba tempat di sisi-Mu yang terbaik. Hamba ikhlas. (17032001)

Maa Syaa Allah…dengan penyakit yang diderita, ambu tak pernah putus asa dalam menghadapinya. Bahkan ambu merasakan sakitnya sebagai penghapus setiap khilafnya. Kukibaskan lagi lembar demi lembar lainnya. Tiba-tiba tanganku terhenti kulihat namaku terukir.

Teruntuk Rayhan anakku…

Ambu sangat bersyukur dapat melahirkanmu dari rahim ini. Ambu sangat sangat mencintaimu, nak. Ingin sekali ambu melihatmu tumbuh menjadi pemuda sholih. Pemuda hebat yang penuh tanggung jawab dan tak pernah putus asa meski didera cobaan. Doa ambu selalu mengiringimu. Berjuanglah sebagaimana seorang pemuda muslim semestinya. Seperti Muhammad Al Fatih yang selalu berserah pada Allah untuk menghancurkan kebatilan dan selalu menyebarkan kasih sayangnya. (09092002)

Allah hanya Engkau Maha Mengetahui hati ini.

“Abah…Ray mencintaimu, maafkan Ray yang mengecewakanmu, maafkan…”kami tenggelam dengan air mata yang mengikat hati.

Seperti pepatah yang mengatakan “Kasih sayang orang tua sepanjang masa.” Malu hati ini jika teringat akan kata dan sikap yang sering membuat abah meneteskan butiran-butiran dari pelupuk mata. Cintanya begitu indah, seindah bulan purnama. Mungkinkah diri ini mampu mencintinya, seperti ia mencintai tanpa syarat? 

Abah dan ambu dengan cinta kalian, serta ridho Illahi, aku janji akan membuatmu bangga.

 

(Visited 33 times, 3 visits today)
Ariyanti Dwiantika

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

More Posts

Ariyanti Dwiantika

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

Leave a Reply